About Syok

Posting hal-hal yang berkaitan dengan bidang medis adalah salah satu hal iseng yang ingin Saya lakukan. Tapi berhubung Saya orangnya males dan tidak punya bakat menyusun kata-kata yang menarik, jadinya blog ini saaaangaaat jarang diupdate. Tapi, tadi pagi Saya tiba-tiba punya niat bikin tulisan tentang syok, soalnya lagi belajar buat UKDI.

Ok, daripada berlama-lama Saya mulai saja dengan meminta Anda semua membaca Disclaimer singkat dibawa

  1. Tulisan ini dibuat untuk konsumsi umum, bukan untuk digunakan sebagai referensi untuk tulisan ilmiah.
  2. Informasi dalam tulisan ini tidak bisa menggantikan hasil evaluasi dari petugas kesehatan yang sudah terlatih untuk menghadapi situasi medis.
  3. Dunia kedokteran berkembang dengan pesat. Hal yang dianggap benar saat ini bisa saja terbukti salah pada penelitian di masa yang akan datang
  4. Penulis tidak bertanggung jawab dengan hal-hal yang tidak diinginkan karena penggunaan informasi dalam tulisan ini.

Baik, kita mulai saja dengan pengertian syok. Syok adalah sindrom (kumpulan gejala) klinis yang disebabkan penurunan aliran darah ke jaringan tubuh. Setiap sel di dalam tubuh sangat bergantung pada darah untuk memberikan nutrisi dan oksigen agar sel bisa hidup dan berfungsi. Nah, syok terjadi jika darah tidak bisa sampai ke jaringan karena beberapa sebab. ATLS membagi syok menjadi dua, syok yang disebabkan perdarahan (hemorrhagic shock) dan syok yang disebabkan oleh bukan perdarahan (nonhemorrhagic shock). Kita mulai saja dengan yang pertama

Hemorrhagic shock

Ok, seperti yang Saya sampaikan tadi, sel sangat membutuhkan darah, jadi kenapa bisa sel tidak mendapat darah sehingga menyebabkan syok? Salah satu penyebab yang paling sering adalah karena jumlah darah berkurang secara cepat, seperti yang terjadi pada pendarahan akibat kecelakaan lalu lintas.

Mari kita lihat bagaimana reaksi tubuh saat kehilangan darah. Pengetahuan ini nantinya akan memberi pengertian pada kita mengenai gejala-gejala yang timbul pada saat tubuh mengalami syok.

Tubuh memberikan reaksi terhadap perubahan tidak normal yang terjadi pada dirinya. Pada saat terjadi perdarahan yang cukup banyak, reaksi pertama dari tubuh adalah dengan menyempitkan pembuluh darah kecil-kecil yang ada didekat permukaan tubuh agar sebagian besar darah mengalir ke ginjal, otak dan jantung, tiga organ yang menurut tubuh paling penting dan membutuhkan darah secara konstan. Tapi karena prioritas tubuh untuk ketiga organ tersebut tinggi, dengan jumlah darah yang sedikit, maka harus ada organ yang dikorbankan. Organ tersebut adalah kulit, otot, dan saluran pencernaan. Menurunnya aliran darah ke organ-organ tersebut memberikan kita gejala pertama dari syok. Pada penderita syok akan ditemukan kulit yang teraba dingin dan tubuh yang lemas, sedangkan gejala pada saluran pencernaan tidak bisa diamati dari luar tubuh.

Selanjutnya, jika keadaan tersebut dibiarkan, jumlah darah akan semakin berkurang, sedangkan tubuh (lebih tepatnya tiga organ utama yang tadi) membutuhkan darah yang konstan. Jadi apa yang bisa dilakukan tubuh? Tubuh akan meningkatkan denyut jantung. Hal ini dilakukan agar tekanan darah tetap tinggi.

Pertukaran oksigen ke jaringan hanya bisa terjadi dengan tekanan darah yang cukup. Hal ini terjadi karena oksigen yang larut dalam darah mempunyai tekanan. Mungkin masih ada yang ingat dengan fisika SMP, dimana benda gas dengan volume yang sama memiliki tekanan lebih besar jika berada dalam ruang yang lebih kecil. Gas hanya bisa bergerak dari tekanan yang lebih besar ke tekanan yang lebih kecil. Hal yang sama juga terjadi pada oksigen di dalam pembuluh darah. Jadi tubuh berusaha meningkatkan tekanan darah agar tekanan oksigen dalam darah juga meningkat dan terjadi pertukaran darah ke jaringan. Tapi tubuh tidak bisa meningkatkan tekanan darah dengan menambah volume darah dalam waktu singkat, jadi tubuh melakukannya dengan meningkatkan denyut jantung.

Hal di atas memberi kita gejala kedua yaitu peningkatan denyut jantung (istilah medisnya takikardi). Berapa denyut jantung yang bisa dikatakan meningkat? Hal ini tergantung oleh usia. Pada bayi denyut jantung yang lebih dari 160 kali per menit sudah bisa dikatakan meningkat, sampai usia 6 tahun denyut jantung meningkat bila lebih dari 140 kali per menit. Untuk anak-anak sampai masa puber denyut jantung di atas 120 kali per menit bisa dikatakan meningkat. Sedangkan dewasa denyut jantung lebih dari 100 kali per menit sudah dikatakan meningkat. Khusus untuk pasien yang lebih dari 60 tahun, karena respon tubuhnya sudah mulai menurun, kemungkinan tidak ditemukan peningkatan denyut jantung. Begitu juga pada atlet, umumnya tidak ditemukan peningkatan denyut jantung, karena latihan yang rutin, tubuhnya memproduksi darah yang lebih banyak, dengan fungsi sel darah yang lebih baik dari orang kebanyakan.

Ok, tadi dikatakan pada penderita syok tubuh akan meningkatkan tekanan darah agar pertukaran oksigen terjadi dengan baik. Ini adalah gejala berikutnya. Mungkin kalau Anda pernah ke dokter dan diperiksa tekanan darahnya, dokter akan mengatakan dua angka. Angka yang pertama (biasanya lebih besar dari angka yang kedua) disebut sistol. Angka ini menunjukkan tekanan darah saat jantung memompa darah keluar dari jantung. Angka kedua disebut diastol. Angka ini menunjukkan tekanan darah saat jantung menghisap darah masuk ke jantung. Pada orang dewasa normal tekanan darahnya kurang lebih 120/70 mmHg (milimeter merkuri).

Pada pasien syok bisa ditemukan penurunan angka yang pertama bisa juga tidak. Apakah angka yang kedua mengalami penurunan? Belum tentu juga. Tadi dikatakan tubuh manusia akan berusaha mengimbangi penurunan jumlah darah dengan meningkatkan tekanan darah. Hal ini menyebabkan tekanan darah yang relatif stabil pada fase awal syok. Yang berubah adalah tekanan nadi. Tekanan nadi adalah perbedaan antara sistol dan diastol. Kemampuan tubuh untuk mengimbangi penurunan jumlah darah tidaklah sempurna. Tubuh bisa meningkatkan diastol tapi tidak diimbangi dengan peningkatan sistol. Hal ini menyebabkan penurunan tekanan nadi (ada juga bilang tekanan nadi menyempit).

Seiring dengan kehilangan darah, tubuh tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan ke tiga organ utama diatas. Tapi itu baru terjadi jika tubuh kehilangan lebih dari 40% volume darah. Jika sudah terjadi maka gejalanya akan ditambah dengan penurunan kesadaran atau kejang (karena penurunan aliran darah ke otak). Tabel di bawah merangkum gejala-gejala yang ditemui dalam tiap fase syok.

Perkiraan kehilangan darah dari gejala klinis pasien*

Kelas I

Kelas II

Kelas III

Kelas IV

Darah yang hilang (ml) Sampai 750 (mirip dengan saat donor darah) 750 – 1500 1500-2000 >2000
Darah yang hilang (% volume darah) Sampai 15% 15%-30% 30% – 40% >40%
Denyut nadi (kali per menit) <100 100 – 120 120 – 140 >140
Tekanan darah Normal Normal Menurun Menurun
Tekanan nadi (mmHg) Normal atau menurun Menurun Menurun Menurun
Laju pernafasan (kali per menit) 14-20 20 – 30 30 – 40 >35
Produksi urin (ml/jam) >30 20 – 30 5 – 15 Tidak terukur
Keadaan mental Sedikit gelisah Gelisah Gelisah, bingung Bingung, tidak sadar
Jenis cairan pengganti Kristaloid Kristaloid Kristaloid dan transfusi darah Kristaloid dan transfusi darah

*untuk orang dewasa berat badan 70kg

Nonhemorrhagic Shock

Seperti namanya, syok ini terjadi bukan karena kehilangan volume darah. Lho kok bisa? Ternyata yang menyusun tekanan darah itu bukan cuma denyut jantung. Singkatnya begini, tekanan darah dipertahankan normal oleh beberapa komponen yaitu: denyut jantung, volume darah, fungsi otot jantung, dan tahanan pembuluh darah tepi. Gangguan pada komponen-komponen ini bisa menyebabkan syok. Syok yang bukan karena perdarahan diantaranya syok kardiogenik, tension pneumotorak, syok neurogenik, dan syok septik. Syok kardiogenik disebabkan oleh adanya gangguan pada jantung. Tension pneumotorak disebabkan oleh kebocoran pada paru yang menyebabkan udara masuk ke selaput paru dan mengganggu fungsi paru dan jantung. Sistem saraf juga memiliki andil dalam menentukan tekanan darah, jadi gangguan pada saraf yang berfungsi menjaga tekanan darah dapat menyebabkan syok yang disebut syok neurogenik.

Gejala-gejala yang muncul mirip dengan syok akibat perdarahan, tapi biasanya disertai dengan gejala lain sesuai dengan penyakit dasarnya.

Penanganan

Mungkin pembaca umum tidak perlu mengetahui secara dalam mengenai penanganan syok. Jadi kalau sudah bosan boleh berhenti membaca, kalau mau diteruskan juga tidak apa-apa. Bagian ini hanya untuk pengenalan tahap-tahap penanganan syok.

Seperti penanganan kegawat daruratan umumnya, penanganan syok juga mengikuti pedoman ABCDE. Prinsipnya adalah resusitasi cairan dan menghentikan perdarahan.

Airway. Bagaimana cara mendapatkan oksigen jika jalan nafasnya tertutup? Jadi hal pertama yang perlu dilakukan adalah membebaskan jalan nafas.

Breathing. Pastikan fungsi paru berjalan baik atau udara tidak akan bisa masuk ke darah. Bila perlu berikan oksigen.

Circulation. Dilakukan dengan pemasangan infus dan pemberian cairan sesuai dengan jumlah cairan yang hilang dengan larutan kristaloid (RL, NS 0,9%) atau darah sesuai petunjuk tabel. Menurut aturan 3:1, untuk larutan kristaloid diberikan tiga kali jumlah darah yang hilang. Biasanya jumlah cairan awal yang diberikan adalah 1-2 L untuk dewasa dan 20 mL/kg pada anak-anak. Setelah itu nilai tanda vital dan periksa apakah ada tanda-tanda kelebihan cairan sambil kita mencari sebab perdarahan. Penilaian respon resusitasi bisa dilihat pada tabel dibawah.

Respon setelah pemberian cairan awala

Respon cepat

Respon sementara

Respon minimal atau tidak ada

Tanda vital Kembali ke normal Perbaikan sementara, tekanan darah kembali menurun, denyut nadi kembali meningkat Tetap abnormal
Perkiraan jumlah darah yang hilang Minimal (10% – 20%) Sedang dan masih hilang (20% – 40%) Banyak (>40%)
Kebutuhan kristaloid lanjutan Rendah Tinggi Tinggi
Kebutuhan akan transfusi darah Rendah Sedang sampai tinggi Tinggi
Sediaan transfusi Golongan darah dan uji silang Sesuai golongan darah Transfusi darurat
Perlu operasi Kemungkinan kecil Sangat mungkin Amat sangat mungkin
Perlu pengawasan ahli bedah Ya Ya Ya

a2000 ml larutan isotonik pada dewasa; bolus RL 20cc/kg pada anak-anak

Disability. Pemeriksaan neurologi, untuk menilai kesadaran, pergerakan mata dan refleks pupil, fungsi motorik dan fungsi sensorik. Dari pemeriksaan ini berguna untuk menilai perfusi sereberal

Exposure. Membuka semua pakaian pasien dan mencegah hipotermi. Dilakukan juga pemeriksaan untuk mencari sumber perdarahan dan segera menghentikan perdarahan.

Yah… Segitu saja yang bisa Saya bagi, maklum ilmu masih cetek. Mungkin kalau diibaratkan Saya masih bau kencur di bidang medis. Bahan yang Saya ambil ini berasal dari buku ATLS for Doctors edisi 8 keluaran tahun 2008. Terakhir yang mau Saya sampaikan semoga informasi yang Saya berikan dalam tulisan ini bisa menambah pengetahuan masyarakat tentang syok.

C U Next Time….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.