About Bell’s Palsy
Hmmm, hari ini mau bahas apa ya?…. Bagaimana kalau kita bahas mengenai Bell’s Palsy? Penyakit ini menarik karena gejalanya sangat jelas dan cenderung menakutkan sehingga membuat orang segera mencari pertolongan ke petugas kesehatan.
Oh iya, sebelum lanjut baca disclaimer di bawah ini ya…
- Tulisan ini dibuat untuk konsumsi umum, bukan untuk digunakan sebagai referensi untuk tulisan ilmiah.
- Informasi dalam tulisan ini tidak bisa menggantikan hasil evaluasi dari petugas kesehatan yang sudah terlatih untuk menghadapi situasi medis.
- Dunia kedokteran berkembang dengan pesat. Hal yang dianggap benar saat ini bisa saja terbukti salah pada penelitian di masa yang akan datang.
- Penulis tidak bertanggung jawab dengan hal-hal yang tidak diinginkan karena penggunaan informasi dalam tulisan ini.
Bell’s Palsy adalah salah satu bentuk kelemahan pada wajah yang paling sering dijumpai. Penyakit ini terjadi karena peradangan pada serabut saraf yang melayani otot-otot wajah. Di antara 12 saraf yang keluar langsung dari otak besar, wajah kita dipersarafi sebagian besar oleh saraf nomor 7 (untuk mempersingkat kita sebut saja NVII) yang juga disebut nervus fasialis.
Salah satu hal yang menurut Saya, membuat pelajaran neuroanatomy menakutkan adalah hapalan yang buaaaanyak. Terlebih lagi hapalan mengenai alur perjalanan saraf-saraf dalam otak sampai ke otot. Kebayang nggak, serabut saraf yang kecil, banyak ditambah lagi masing-masing punya jalur tersendiri supaya sampai di otot atau organ lainnya. Belum lagi ada muter-muter di nukleus yang bejibum di sekitar batang otak. Setelah lewat lab neuro Saya sangat salut dengan dokter spesialis saraf. Mereka benar-benar orang yang berdedikasi dan sangat sabar dalam mendalami bidang mereka. Balik lagi ke topik. Bagaimana pun takutnya Saya dengan materi neuroanatomy, harus Saya akui, mengetahui alur perjalanan serabut saraf amat sangat membantu dalam memahami gejala-gejala penyakit dan penanganan di bidang penyakit saraf. Jadi yang masih takut membaca, silahkan lewati beberapa paragraf di bawah dan langsung baca gejala klinis.
“Sedikit” tentang alur perjalanan saraf ini adalah: serabut motorik berasal dari korteks area 8 (sekitar di bawah sutura koronaria) kemudian masuk ke traktus piramidalis melewati daerah genu (anterior) dari kapsula interna. Serabut ini kemudian melewati pedunkulus serebralis (tempat persilangan serabut saraf). Disini, serabut saraf yang melayani otot-otot atas bagian atas wajah (dari kelopak mata ke atas) tidak sepenuhnya mengalami dekusasio (bagi yang bingung, dekusasio artinya bersilangan, jadi disini tidak sepenuhnya mengalami dekusasio, maksudnya ada serabut saraf yang bersilangan dan ada yang tidak) untuk masuk ke nukleus motorik NVII, sehingga kedua sisi nukleus memiliki persarafan motorik dari kedua belah otak. Sementara serabut NVII sisanya mengalami dekusasio sepenuhnya (nanti ada gambar supaya lebih jelas). Di sini penting untuk diperhatikan jika terjadi gangguan pada jalur di atas nukleus, gejala tidak bisa menutup kelopak mata tidak terlalu kelihatan atau tidak ada sama sekali. Hal ini terjadi karena kelopak mata mendapat persarafan dari kedua bagian otak, sehingga masih ada serabut saraf yang melayani kelopak mata dari sisi yang sehat. Dari nukleus motorik NVII, serabut ini kemudian keluar melalui pons, setelah keluar dari batang otak serabut NVII masuk ke telinga tengah (meatus akustikus internus) bersama saraf akustikus. Setelah itu mereka berpisah dan serabut NVII mengikuti jalannya sendiri melewati saluran dalam tulang dan keluar melalui lubang yang namanya foramen stylomastoideus (deket-deket lubang kuping). Dari sini serabut saraf melewati kelenjar parotid dan menyebar ke otot-otot ekspresi wajah (inget aja ntar, saat kalian ketawa, senyum, nangis, terpana, ngomong, buka mata, itu semua hasil kerja dari si NVII)

Gambar sederhana perjalanan NVII
Ket: gambar serabut yang keluar dari “R pink” kan ada yang nyelonong sendiri ke “R biru”, nah yang itu yang tidak sepenuhnya mengalami dekusasio. Hal yang sama juga terjadi pada serabut yang keluar dari “L pink”.
Ok tadi kan yang motorik, sedangkan saraf ada yang memiliki kualitas sensorik, motorik dan autonomik. Untuk yang sensorik dan autonomik kita bahas lain waktu aja ya. Yang penting diingat saraf sensorik dari NVII mengirimkan rangsangan rasa dari 2/3 bagian depan lidah dan langit-langit mulut bagian belakang.
Gejala Klinis
Thx to Sumber
Bagi yang tadi pengen muntah liat banyak istilah medis di beberapa paragraf di atas, jangan khawatir. Di bagian ini Saya hanya menjabarkan gejala-gejala yang muncul pada penderita Bell’s Palsy (BP).
Seperti yang pernah saya katakan tadi, gejala BP bagi orang-orang mungkin menakutkan. Kenapa? Karena gejala nya muncul tiba-tiba. Dikatakan di buku, dalam 48 jam terjadi kelemahan pada sebelah wajah. Ngerti kan? Coba bayangkan, sehari sebelumnya Anda baik-baik saja, mungkin sedikit nyeri di daerah telinga. Kemudian Anda tidur, setelah bangun esok harinya, sudut mulut Anda jatuh, garis senyum hilang, kerutan-kerutan di wajah hilang (eh, bukannya ini bagus?), dan kelopak mata Anda tidak bisa ditutup (ok, yang ini emang aneh).
BP terjadi karena peradangan pada serabut NVII. Peradangan ini bisa terjadi karena infeksi atau kerja sel imun. Infeksi yang paling sering menyebabkan BP adalah reaktivasi virus herpes simplex. Selain itu, beberapa faktor risiko yang dicurigai memicu peradangan di serabut NVII adalah tidur di lantai dan memakai kipas angin saat tidur. Udara dingin yang di timbulkan karena tidur dilantai dan memakai kipas angin dicurigai bisa memicu proses peradangan.
Dari pemeriksaan fisik akan didapatkan kelemahan pada otot-otot untuk ekspresi wajah. Anda biasanya akan disuruh senyum, mengucapkan hurup “U”, dan mengangkat alis. Dari pemeriksaan ini terlihat jelas mana bagian wajah yang mengalami kelemahan. Penyakit ini tidak terlalu susah dibedakan dengan penyakit lain. Stroke bisa disingkirkan dengan wawancara dan pemeriksaan tekanan darah. Umumnya penderita stroke memiliki tekanan darah dan kolesterol yang tinggi. Selain itu dari wawancara biasanya ditemukan gejala-gejala sistem saraf pusat (muntah, nyeri kepala, kejang) tepat sebelum munculnya gejala stroke.
Pada 80% penderita, BP biasanya akan hilang sendiri dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika pengobatan dimulai dalam 72 jam, biasanya bisa sembuh dalam 1 minggu. Pengobatan yang diberikan berupa kortikosteroid (Prednisolon) 60-80mg/hari selama 5 hari, kemudian dosisnya dikurangi sedikit demi sedikit, untuk menghindari efek samping dari pemberian kortikosteroid. Oh, iya perlu diinformasikan, pemberian kortikosteroid (metilprednisolon, prednisolon, deksametason) tidak boleh dihentikan seketika, terutama pada pemberian dosis tinggi, karena bisa menyebabkan efek samping yang tidak menyenangkan. Dokter Anda akan mengatur dosis yang diberikan agar tidak terjadi efek samping tersebut. Selain pengobatan, yang lebih penting adalah istirahat dan makan yang teratur J. Eh, hampir lupa, sangat disarankan untuk menutupkan kelopak mata dan menempelkan dengan stiker, untuk menjaga tetap tertutup. Ini serius lho. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar mata tidak kering. Selain itu memijat bagian yang mengalami kelemahan diyakini bisa mempercepat penyembuhan.
Lalu sisanya yang 20%? Sebagian besar dari yang 20% ini memerlukan pengobatan yang lebih lama. Beberapa penderita mengalami cacat yang permanen. Cacat permanen terjadi paling sering pada penderita dengan kelemahan yang berat dan yang tidak menunjukkan perbaikan setelah 1 minggu pengobatan. Apa setelah terkena bisa terkena lagi di kemudian hari? Bisa.
Ok, sekian dulu penjelasan Saya. Kalau mungkin ada tidak puas dengan penjelasan Saya, Saya mohon maaf karena hanya ini yang Saya bisa berikan, berdasarkan ilmu Saya yang masih sangat dangkal. Setidaknya Saya berharap informasi ini bisa “menggelitik” pembaca untuk menggali informasi lebih dalam. Internet memberikan kita akses yang sangat luas, jadi kenapa tidak memanfaatkannya untuk menambah pengetahuan? Materi Saya ambil dari buku Harrison’s Principle of Internal Medicine edisi 18, Color Atlas of Neurology terbitan tahun 2004, dan Davidson’s Principle and Practice of Medicine edisi 21. Gambar-gambar diambil dari www.patient.co.uk , instruct.uwo.ca , galindo.me (davidgalindo)
C U Next time…
