About Leptospirosis

Huff, akhirnya UKDI selesai juga, jadi sekarang bisa kembali bikin tulisan lagi. Berhubung waktu UKDI ada satu penyakit yang agak asing di telinga Saya, hari ini Saya akan bahas penyakit itu. Penyakit itu bernama Leptospirosis. Sebelum mulai, baca dulu sedikit disclaimer di bawah ini ya.

  1. Tulisan ini dibuat untuk konsumsi umum, bukan untuk digunakan sebagai referensi untuk tulisan ilmiah.
  2. Informasi dalam tulisan ini tidak bisa menggantikan hasil evaluasi dari petugas kesehatan yang sudah terlatih untuk menghadapi situasi medis.
  3. Dunia kedokteran berkembang dengan pesat. Hal yang dianggap benar saat ini bisa saja terbukti salah pada penelitian di masa yang akan datang.
  4. Penulis tidak bertanggung jawab dengan hal-hal yang tidak diinginkan karena penggunaan informasi dalam tulisan ini.
OK ternyata walaupun jarang Saya dengar di daerah Saya, ternyata penyakit ini sangat umum dijumpai di Indonesia, terutama di daerah-daerah dengan sanitasi kurang dan sering banjir (hmm, kira-kira di mana ya?). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dari golongan Spirochaeta (satu famili dengan kuman penyebab sifilis), tepatnya genus Leptospiraceae. Ada banyak spesies dari genus ini tapi yang paling sering menimbulkan penyakit adalah spesies L. interrogans. Bakteri ini memiliki ukuran 0,1 x 2-60 µm dan hanya bisa diamati dengan mikroskop lapangan gelap (dark-field microscopy).
Penyakit ini sering ditemui pada penduduk pinggiran kota (rural) baik di negara berkembang maupun negara maju. Penyebarannya adalah melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi dengan urin/air seni hewan yang terjangkit penyakit ini. Dan hewan yang beruntung menjadi penyebar penyakit ini adalah tikus. Hewan ini bisa ditemukan di hampir seluruh penjuru dunia, sehingga penyebaran penyakit ini pun sangat luas. Selain tikus, beberapa hewan lain yang turut berperan menyebarkan penyakit ini adalah anjing (lagi-lagi hewan yang sering kita temui), kerbau dan babi. Salah satu kelebihan bakteri ini adalah bisa hidup didalam tubuh hewan dan bisa hidup bebas di luar tubuh hewan. Jadi setelah bakteri ini keluar dari tubuh hewan melalui urin/air seni, bakteri ini akan dapat hidup di air, tanah dan tempat-tempat lain yang terkontaminasi oleh urin/air seni tersebut dan berpotensi menyebabkan penyakit leptospirosis ke manusia.

Perjalanan Si Leptospira

Bakteri ini masuk ke tubuh manusia melalui selaput lendir (rongga mulut, kelopak mata sebelah dalam) atau kulit yang luka. Dari sini bakteri ini masuk ke pembuluh darah dan organ-organ dalam tubuh untuk berkembang biak. Organ-organ yang diserang biasanya otak, jantung, ginjal, paru dan hati. Infeksi pada organ-organ ini akan memberikan gejala-gejala penyakit yang bisa membantu dalam mendiagnosis leptospirosis. Biasanya setelah 5-14 hari bakteri tersebut akan menyebar ke organ lain melalui darah dan muncul gejala penyakit. Setelah ± satu minggu, biasanya mulai terbentuk zat pertahanan tubuh yang disebut antibodi yang melawan bakteri yang berada dalam darah, sehingga pada penyakit yang ringan (tanpa kekuningan pada mata), penyakit ini akan hilang sendiri atau setelah pemberian antibiotik. Sementara itu bakteri yang masih berada dalam organ akan tetap berkembang biak jika tidak diberikan pengobatan. Jika bakteri ini berhasil masuk ke ginjal, siklus hidupnya akan lengkap dan bakteri ini bisa keluar dari tubuh manusia kemudian menyebarkan ke hewan lain.
Gejala dan tanda

Gejala yang bisa timbul diantaranya demam selama 3-10 hari dan nyeri kepala, kadang kaku pada leher dan kemerahan pada kulit juga bisa dijumpai. Memang gejala yang diperlihatkan tidak terlalu jelas, tapi ada beberapa gejala bisa memberikan sedikit kecenderungan ke arah Leptospirosis, yaitu apabila ditemukan adanya nyeri pada betis bersamaan dengan kemerahan pada mata. Hal ini disebabkan oleh sifat penyakit ini yang menyebabkan infeksi pada pembuluh darah (vaskulitis), sehingga menyebabkan pembuluh darah di mata tampak lebih lebar dan kematian otot yang menyebabkan nyeri pada betis (kadang kematian otot perut bisa menyebabkan rasa nyeri yang seperti kelainan pada usus). Selain itu gejala yang muncul mirip dengan penyakit-penyakit lain, diantaranya pembesaran hati, mata kekuningan, nyeri otot dan nyeri perut. Setelah sembuh biasanya penderita akan mengalami demam 3-10 hari kemudian (demam bifasik, juga ditemui pada demam berdarah), hal ini karena tubuh sedang giat-giatnya membentuk antibodi.

Pada penyakit yang berat akan ditemui gejala yang lebih berat diantaranya adalah kekuningan pada mata (jaundice), batuk darah dan gangguan BAK (BAK berdarah, sedikit/tidak ada BAK). Hal ini masing-masing disebabkan oleh bakteri yang sudah masuk ke hati, paru, dan ginjal.

Diagnosis

Dokter biasanya menduga seseorang menderita leptospirosis jika memiliki riwayat terpapar dengan lingkungan yang terkontaminasi sumber bakteri dan menunjukkan gejala di atas. Maksud terpapar di sini adalah sering terpapar langsung pada selaput lendir dan kulit. Misalnya petani yang tidak pernah memakai alas kaki, petugas rumah jagal dan orang yang hidup di lingkungan kumuh dan sering banjir.

Seseorang dinyatakan menderita leptospirosis jika ditemukan bakteri pada hasil kultur darah, cairan otak, dan urin/air seni. Jadi seorang yang dicurigai menderita leptospirosis akan diambil darah, urin/air seni dan bila perlu cairan otaknya. Tapi, karena kultur memerlukan waktu lama untuk memberikan hasil, dilakukan tes serologis (Leptodipstik) untuk menegakkan diagnosis awal. Selain itu pemeriksaan lain dilakukan untuk mengetahui apakah penyakitnya sudah menyebabkan kerusakan organ lain atau tidak.

Pengobatan 

Penyakit ini jika diketahui lebih awal pada orang dengan kondisi tubuh baik, cenderung leptospirosis akan sembuh tanpa komplikasi yang berat. Pengobatan yang diberikan pada leptospirosis ringan adalah antibiotik (amoxicillin, ampicillin, doxycyclin). Sementara leptospirosis yang berat membutuhkan rawat inap dan pengobatan yang diberikan langsung ke pembuluh darah. (penicillin G, cefotaxime, ceftriaxone). Dari beberapa penelitian memberikan hasil yang berbeda-beda mengenai harapan hidup pasien dengan leptospirosis berat.

Pencegahan

Setelah membaca penjelasan diatas, Saya harap orang-orang lebih termotivasi menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri, karena penyakit ini sebenarnya bisa dicegah agar tidak muncul. Walaupun belum ada vaksin yang bisa mencegah penyebaran penyakit ini, beberapa hal bisa dilakukan, misalnya dengan memakai alas pelindung yang cukup jika bekerja di tempat kotor, membersihkan dan merawat luka dengan baik, menghindari kontak antara selaput lendir dengan lingkungan yang berpotensi menimbulkan penyakit (misalnya memakai kacamata dan masker).

Hmm, kira-kira segitu kemampuan Saya yang pas-pasan untuk bisa memberikan penjelasan mengenai leptospirosis. Saya berharap penjelasannya cukup memberi pengetahuan mengenai penyakit ini. Kalau tidak cukup, Saya berharap bacaan ini bisa memberi sedikit dorongan untuk mencari info lebih banyak. Sumber bacaan saya dapatkan dari buku Harrison’s Principle of Internal Medicine  18ed dan Color Atlas of Medical Microbiology 2005.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.